CILEUNGSI – Ada yang menarik dari latihan Pramuka SDIT Nurul Akbar ketika Latihan rutin pada Selasa, 5 Mei 2026.
Setelah upacara pembukaan, Pembina gugusdepan mengajak 258 peserta didiknya melakukan praktek membatik menggunakan ecoprint bersama kak Chaca dan Kak Lia.
Praktek membatik menggunakan ecoprint dilakukan dengan beberapa alat yang di gunakan seperti palu, plastik dan bahan membatik seperti daun dan bunga serta tote bag sebagai media.
Pada tahap pengukusan, peserta didik belajar tentang kesabaran. Karena proses ini memakan waktu 1-2 jam, mereka akan merasakan hasil dari membatik ini, salah satunya momen yang bagus untuk mengajarkan bahwa karya seni yang indah butuh waktu dan proses. Melihat jejak daun yang mereka tata tadi berpindah secara sempurna.
"Saya sangat mengapresiasi prosesnya karena di sini anak-anak belajar tentang kesabaran dan ketelitian. Dalam ecoprint, tidak ada hasil yang instan. Mereka harus mengikuti prosedur, mulai dari membersihkan kain hingga menunggu hasil kukusan. Ini melatih grit (daya juang) dan pemahaman bahwa sebuah kualitas lahir dari proses yang panjang. Secara edukatif, ecoprint melatih kemampuan kognitif anak dalam menganalisis pola, warna, komposisi, dan mereka belajar bereksperimen. Ecoprint bukan sekadar membuat pola di atas kain, melainkan proses mentransfer nilai-nilai kehidupan melalui media daun dan warna alami. Hasil akhirnya bukan hanya kain yang cantik, tapi tumbuhnya apresiasi anak terhadap detail-detail kecil ciptaan Tuhan,” ungkap kak Rismanita Amanda, S.Pd.,Gr selaku pembina Pramuka SDIT Nurul Akbar
Secara keseluruhan, bagi peserta didik ecoprint bukan sekedar belajar teknik cetak, tapi lebih terasa seperti bermain sambil bereskperimen