CISARUA — Botol-botol gelap berisi cairan kecokelatan itu sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bukan obat, bukan pupuk kimia — melainkan eco enzim: cairan fermentasi ajaib dari limbah organik yang kini siap dituangkan ke dalam telaga di puncak Cisarua oleh tangan-tangan muda anggota Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Cisarua, Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia dalam rangkaian Hari Jadi Bogor ke 544 Tahun 2026
Momen pemberian eco enzim menjadi salah satu puncak paling bermakna dalam rangkaian kegiatan Ngalokat Cai, Jumat (5/6). Di tepi telaga yang dikelilingi hamparan hijau kawasan puncak, Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Kabupaten Bogor Kak Agus Ridho bersama seluruh peserta secara bergantian menuangkan cairan eco enzim hasil produksi sendiri ke perairan telaga — disaksikan puluhan warga yang turut menyaksikan jalannya prosesi.
Proses pembuatan eco enzim yang digunakan dalam kegiatan ini telah dimulai jauh sebelum hari pelaksanaan. Para anggota Pramuka Kwaran Cisarua — di bawah bimbingan pembina — mengumpulkan sisa organik rumah tangga, memfermentasinya selama kurang lebih tiga bulan, hingga menghasilkan cairan bioaktif yang siap diaplikasikan ke perairan alami.
Kombinasi antara penebaran benih ikan dan penuangan eco enzim dipandang sebagai langkah yang saling melengkapi. Jika benih ikan memulihkan populasi fauna perairan, maka eco enzim menyiapkan "rumah" yang sehat bagi ikan-ikan tersebut untuk tumbuh. Inilah yang disebut para pembina sebagai pendekatan holistik ekosistem — merawat makhluk hidup sekaligus habitatnya dalam satu napas kegiatan.
"Kami ingin adik-adik memahami bahwa alam tidak bisa dipulihkan hanya dengan niat baik. Perlu ilmu, perlu tindakan, dan perlu konsistensi. Eco enzim mengajarkan ketiganya sekaligus."
— Pembina Kwartir Ranting Cisarua
Prosesi penuangan eco enzim berlangsung dalam suasana khidmat namun penuh semangat. Satu per satu peserta maju ke tepi telaga, menuangkan cairan berharga itu seraya menyaksikan riak air yang menyebarkannya ke seluruh penjuru telaga. Bagi sebagian besar peserta, ini adalah pengalaman pertama mereka — dan kemungkinan besar, bukan yang terakhir.
Kegiatan ini sekaligus menjadi edukasi langsung bagi masyarakat sekitar tentang cara mudah dan murah merawat kualitas air di lingkungan mereka. Diharapkan, semangat membuat dan mengaplikasikan eco enzim ini akan menyebar ke rumah tangga warga Cisarua, menjadikan setiap dapur sebagai laboratorium kecil pelestarian lingkungan. â–