CISARUA — Pagi itu, langit di atas kawasan puncak Cisarua seakan menahan napas. Ratusan pasang mata anggota Pramuka Kwartir Ranting (Kwaran) Cisarua tertuju pada sangkar-sangkar kecil yang dipegang erat oleh tangan-tangan muda. Di dalamnya, burung-burung berkicau resah — seolah merasakan bahwa saat kebebasan mereka sudah tiba.

Dalam hitungan detik, pintu-pintu sangkar dibuka secara bersamaan. Satu, dua, lalu puluhan burung meluncur ke angkasa dengan kepak sayap yang penuh tenaga, meninggalkan kerumunan yang langsung meledak dalam sorak-sorai dan tepuk tangan. Inilah momen pelepasan burung ke alam liar — salah satu klimaks paling emosional dalam rangkaian Ngalokat Cai 2026 yang digelar Pramuka Kwaran Cisarua bersama Ketua Kwarcab Kabupaten Bogor, Kak Agus Ridho, Jumat (5/6).

"Saat kita membuka pintu sangkar itu, kita sedang belajar sesuatu yang sangat besar — bahwa alam tidak butuh kita menguasainya. Alam butuh kita mengembalikan apa yang pernah kita ambil."

— Kak Agus Ridho, Ketua Kwartir Cabang Kabupaten Bogor

Prosesi berlangsung dalam suasana yang khidmat sekaligus penuh kegembiraan. Para peserta yang sebagian besar adalah anggota Pramuka usia Penggalang dan Penegak ini tampak antusias memegang sangkar, menunggu aba-aba pelepasan dengan penuh semangat. Beberapa di antara mereka terlihat menahan haru saat menyaksikan burung peliharaan yang selama ini mereka rawat akhirnya terbang bebas menuju rimbunnya pepohonan di kawasan puncak Cisarua.

Pemilihan kawasan puncak Cisarua sebagai lokasi pelepasan bukan tanpa alasan. Kawasan ini masih memiliki tutupan hutan yang relatif baik, dengan ketersediaan pakan alami dan kanopi pohon yang memadai untuk mendukung keberlangsungan hidup burung-burung yang dilepas. Para pembina memastikan setiap burung yang dilepas berasal dari spesies asli daerah setempat — bukan spesies invasif yang justru dapat merusak keseimbangan ekosistem lokal.

 

Kegiatan ini juga menjadi edukasi hidup bagi para peserta tentang dampak buruk perburuan dan perdagangan satwa liar. Para pembina menjelaskan bahwa banyak spesies burung kicau Indonesia kini terancam punah akibat maraknya penangkapan liar untuk diperjualbelikan. Dengan melepas burung secara langsung, setiap peserta diharapkan membawa pulang kesadaran untuk tidak lagi membeli atau memelihara satwa liar yang ditangkap dari alam bebas.

"Kepak sayap burung yang terbang bebas itu adalah suara alam yang paling jujur. Ia tak meminta apa-apa selain ruang untuk hidup. Tugas kita adalah memastikan ruang itu selalu ada."

— Pembina Kwartir Ranting Cisarua

Momen pelepasan burung ini juga disertai dengan ikrar bersama seluruh peserta: untuk tidak berburu, tidak membeli, dan tidak memelihara satwa liar yang bukan dari penangkaran resmi. Sebuah janji kecil yang — bila dipegang teguh oleh ratusan Pramuka dan disebarkan ke keluarga masing-masing — berpotensi menjadi gelombang perubahan yang nyata bagi ekosistem Cisarua dan sekitarnya.

"Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan — termasuk kepada setiap makhluk hidup yang berbagi bumi bersama kita."

Dengan pelepasan burung ke alam liar ini, Pramuka Kwaran Cisarua menutup rangkaian Ngalokat Cai 2026 dengan pesan yang akan lama dikenang: bahwa menjaga alam bukan hanya tentang air dan tanah, tetapi juga tentang langit — dan segala yang terbang di bawahnya.