CITEUREUP, – Sebanyak 1.400 Pramuka Penggalang tingkat SD/MI dan SMP/MTs se-Kecamatan Citeureup mengikuti Jambore Ranting (Jamran) Citeureup 2026 dengan tema “Bersama, Berkarya, Berpetualang, Mandiri”. Kegiatan yang menjadi ajang pertemuan dan pengembangan diri Pramuka Penggalang ini diselenggarakan di Villa Bukit Hambalang pada Kamis hingga Sabtu, 15–17 Oktober 2026.

Kegiatan ini didukung oleh sejumlah unsur kepanitiaan pendukung, yang terdiri atas 41 pengurus Kwarran Citeureup, 10 anggota Dewan Kerja Ranting (DKR), 9 anggota Tim Kominfo, 26 anggota Tim Kesehatan, 12 anggota Tim Keamanan, dan 14 anggota Tim Sarana dan Prasarana (Sapras). Selama tiga hari, peserta mengikuti berbagai kegiatan edukatif, kreatif, dan rekreatif, mulai dari api unggun, pentas seni, senam pagi, bakti sosial, hingga materi kepramukaan dan teknologi robotik.

Secara umum, Jambore Ranting Citeureup 2026 berlangsung dengan antusiasme peserta yang tinggi. Berbagai pengalaman dan kebersamaan mewarnai kegiatan, meskipun pelaksanaannya juga diwarnai sejumlah kendala teknis dan sarana prasarana yang menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan mendatang.

Tantangan Kesehatan Menjadi Perhatian Panitia

Selama pelaksanaan kegiatan, Tim Kesehatan (Timkes) menangani sejumlah peserta yang mengalami gangguan kesehatan. Selain itu, terdapat peserta yang mengalami luka akibat terjatuh dan membutuhkan tindakan penjahitan.

Tim Kesehatan yang dipimpin oleh Kak Makbul dan Kak Upi selaku Andalan Urusan Saka, menyampaikan bahwa penanganan peserta dilakukan dengan sigap sesuai kondisi di lapangan. Dalam pelaksanaannya, Timkes turut didukung oleh ketersediaan obat-obatan serta dua unit ambulans dari Yayasan Al-Hidayah Tajur dan NU Ranting Citeureup.

“Kami didukung Kwarran dengan obat-obatan yang cukup lengkap dan dibantu dua unit ambulans dari Yayasan Al-Hidayah Tajur dan NU Ranting Citeureup,” jelas Kak Upi.

Meski demikian, Kak Makbul dan Kak Upi menyoroti perlunya evaluasi terhadap kapasitas posko kesehatan yang dinilai belum memadai, serta kebutuhan oksigen dan air minum yang perlu ditingkatkan. Ia berharap ke depan Kwarran dapat memperkuat kerja sama dengan klinik, puskesmas terdekat, dan Dinas Pendidikan setempat agar pelayanan kesehatan bagi peserta dapat berjalan lebih optimal.

Evaluasi Sarana, Lokasi, dan Teknis Pelaksanaan

Dari sisi sarana dan prasarana, Kak Supri selaku Tim Sapras menilai pelaksanaan Jamran tahun ini berlangsung meriah, terutama saat peserta menampilkan kreativitas dalam pentas seni serta mengikuti rangkaian kegiatan yang membangun semangat kebersamaan.

Namun, sejumlah kendala masih ditemukan di lapangan, antara lain keterbatasan ketersediaan air, jangkauan pengeras suara yang belum merata ke seluruh area kegiatan, serta koordinasi dengan beberapa pembina pendamping saat kunjungan orang tua. Hal tersebut menjadi catatan penting untuk meningkatkan kesiapan teknis dan pelayanan pada penyelenggaraan berikutnya.

Senada dengan hal tersebut, Kak Asep Zainal dari Kelurahan Putra sekaligus Waka Bina Muda menyampaikan sejumlah evaluasi dan masukan terkait pelaksanaan Jambore Ranting Citeureup 2026. Menurutnya, terdapat beberapa kritik yang membangun, terutama mengenai lokasi kegiatan yang dinilai kurang strategis, keterbatasan ketersediaan air, serta kondisi medan yang kurang memadai sehingga jalur kedatangan dan kepulangan peserta menjadi kurang kondusif.

Ia berharap berbagai kendala tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi panitia untuk penyelenggaraan kegiatan kepramukaan berikutnya. Persiapan yang lebih matang, koordinasi yang baik, serta kesigapan panitia dalam mengantisipasi berbagai situasi di lapangan diharapkan dapat menciptakan kegiatan yang lebih tertib, aman, dan nyaman bagi seluruh peserta.

Meski demikian, Kak Asep menegaskan bahwa berbagai masukan tersebut merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan Jambore Ranting pada masa mendatang agar kegiatan dapat berjalan lebih optimal dan memberikan pengalaman yang berkesan bagi seluruh peserta.

Waka Orgakum Soroti Pembagian Tugas dan Koordinasi Panitia

Evaluasi juga disampaikan oleh Kak Yanto selaku Wakil Ketua Organisasi dan Hukum (Waka Orgakum). Menurutnya, sejumlah kendala yang muncul selama kegiatan memang sesuai dengan kondisi yang ia temui secara langsung di lapangan. Ia mengapresiasi semangat peserta sejak pembukaan, tetapi menilai pelaksanaan teknis masih perlu dibenahi, terutama dalam hal pembagian tugas, koordinasi, dan pengawasan.

“Sejak pembukaan, semangat peserta didik luar biasa. Namun, pelaksanaan di lapangan menunjukkan bahwa pembagian tugas dan pelaksanaan tupoksi panitia masih perlu diperkuat agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana,” ungkapnya.

Kak Yanto juga menyoroti jarak antara lokasi perkemahan putra dan putri yang dinilai terlalu jauh, pengamanan yang perlu ditingkatkan, serta pelayanan kesehatan yang masih membutuhkan perhatian. Selain itu, posisi posko yang cukup jauh dari sejumlah titik kegiatan dinilai menyulitkan pemantauan dan koordinasi ketika dibutuhkan penanganan secara cepat.

Menurutnya, fasilitas kamar mandi atau WC pada dasarnya perlu dilihat berdasarkan perencanaan awal dan kebutuhan peserta. Namun, adanya perubahan kondisi serta penyesuaian di lapangan membuat fasilitas tersebut perlu dievaluasi kembali agar dapat digunakan secara optimal oleh seluruh peserta.

Kak Yanto menilai bahwa kepercayaan antarpersonel, kejelasan tanggung jawab, dan koordinasi yang terarah merupakan hal penting dalam penyelenggaraan kegiatan berskala besar. Setiap panitia diharapkan dapat menjalankan tugas sesuai tanggung jawabnya, sekaligus membangun komunikasi yang baik agar perubahan kondisi di lapangan dapat ditangani secara terkoordinasi.

Berbagai catatan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat manajemen kegiatan, meningkatkan efektivitas pengawasan, serta memastikan kesiapan sarana dan pelayanan sebelum kegiatan dimulai.

Pembina Menilai Inspiratif, Peserta Berbagi Kesan dan Masukan

Di tengah berbagai kendala, para pembina tetap memandang Jambore Ranting Citeureup 2026 sebagai kegiatan yang positif bagi perkembangan Pramuka Penggalang.

Kak Salwa Haliza, pembina dari MTs Al-Murqoniyah, menilai Jamran menjadi wadah yang tepat untuk mengembangkan keterampilan, menambah wawasan, memperluas pertemanan, serta melatih kemandirian peserta.

“Secara keseluruhan, kegiatan Jambore Ranting Citeureup ini sudah bagus dan inspiratif. Banyak pengalaman dan pembelajaran yang bisa didapatkan. Namun, masih ada beberapa kegiatan yang perlu diperbaiki, baik dari segi tujuan maupun teknis pelaksanaannya, agar peserta bisa memahami dan mengikuti kegiatan dengan lebih maksimal,” ungkapnya.

Ia berharap waktu kosong di antara rangkaian kegiatan dapat dimanfaatkan dengan permainan edukatif, keterampilan kepramukaan, atau aktivitas lain yang mendorong kreativitas dan partisipasi peserta.

Dari sisi peserta, berbagai kesan dan pengalaman turut mewarnai kegiatan tersebut. Nabila dari SMP Ar-Rohman mengaku senang karena memperoleh banyak teman baru. Baginya, api unggun dan pentas seni menjadi dua momen paling berkesan selama mengikuti Jamran. Meski demikian, ia menyoroti jarak antarkemah yang dirasa cukup jauh.

Assifa, yang juga berasal dari SMP Ar-Rohman, mengapresiasi fasilitas mushola dan keramahan panitia. Ia menyebut kegiatan robotik sebagai salah satu kegiatan yang paling menarik. Namun, ia berharap fasilitas kamar mandi, kebersihan lingkungan, dan ketersediaan air dapat lebih diperhatikan pada pelaksanaan berikutnya.

Sementara itu, Naila, yang sempat mengalami gangguan kesehatan selama kegiatan, memberikan apresiasi kepada Timkes atas penanganan yang sigap. Ia juga menilai area perkemahan terasa nyaman dan sejuk, meskipun menurutnya apel pagi terasa panas dan membosankan. Pengalaman tersebut bahkan menumbuhkan ketertarikannya untuk bergabung dalam tim dokumentasi pada kegiatan mendatang karena dinilai seru dan menarik.

Ketua Pelaksana Apresiasi Dukungan dan Kekompakan Seluruh Tim

Di balik berbagai dinamika selama pelaksanaan Jambore Ranting Citeureup 2026, Ketua Pelaksana, Kak Zubaidah, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan dapat terlaksana. Ia mengaku terharu karena kegiatan yang telah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari tersebut akhirnya dapat berjalan hingga selesai berkat kerja sama dan kekompakan seluruh tim.

“Terima kasih atas semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Saya terharu karena kegiatan yang dipersiapkan jauh-jauh hari ini dapat terlaksana dengan baik. Walaupun mungkin masih ada sedikit ketidaksempurnaan, berkat kerja sama tim yang hebat, semua masalah bisa tertangani,” ungkap Kak Zubaidah.

Ia juga berharap semangat kebersamaan dan kekompakan yang telah terbangun selama pelaksanaan Jamran dapat terus dipertahankan dalam menjalankan program-program Kwarran Citeureup ke depan.

“Harapannya, semoga program Kwarran ke depannya dapat kita laksanakan bersama-sama, dengan tetap kompak dan saling mendukung, sehingga seluruh program dapat berjalan dengan sukses,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menjadi bentuk apresiasi kepada seluruh panitia, pembina, peserta, serta pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan. Berbagai tantangan yang muncul selama pelaksanaan diharapkan tidak hanya menjadi bahan evaluasi, tetapi juga memperkuat solidaritas dan semangat gotong royong dalam setiap kegiatan kepramukaan berikutnya.

Menjadikan Evaluasi sebagai Langkah Perbaikan

Berbagai tanggapan dari panitia, pembina, dan peserta menjadi gambaran bahwa Jambore Ranting Citeureup 2026 tidak hanya menghadirkan pengalaman berharga, tetapi juga menyisakan sejumlah catatan penting untuk perbaikan. Mulai dari pelayanan kesehatan, ketersediaan air, penataan lokasi perkemahan, pengamanan, hingga koordinasi dan kedisiplinan pelaksanaan tugas panitia, seluruhnya perlu menjadi perhatian bersama.

Dengan semangat kebersamaan yang terbangun selama tiga hari di Villa Bukit Hambalang, Jambore Ranting Citeureup 2026 menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan Pramuka Penggalang sekaligus meningkatkan kualitas penyelenggaraan kegiatan kepramukaan di masa mendatang.

Evaluasi yang dilakukan diharapkan menjadi pijakan untuk menghadirkan Jambore Ranting berikutnya yang lebih tertib, aman, nyaman, dan terorganisasi dengan baik, tanpa mengurangi esensi kegiatan sebagai ruang belajar, berkarya, berpetualang, dan melatih kemandirian generasi muda.

Bersama, Berkarya, Berpetualang, Mandiri!

muh.s – sahlakmla