CITEUREUP - Memasuki jenjang Pramuka Penegak bukan sekadar perubahan tingkatan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengubah cara berpikir dan mengambil peran. Hal tersebut menjadi pesan utama dalam kegiatan Materi Mindset Penegak yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Citeureup pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini diikuti oleh Calon Penegak dengan suasana yang lancar dan kondusif. Para peserta mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian, antusiasme, serta menunjukkan rasa senang dan kagum terhadap materi yang disampaikan. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik tanpa adanya insiden yang menghambat pelaksanaan.

Materi Mindset Penegak menjadi bekal awal bagi para calon Penegak untuk memahami dinamika yang akan mereka hadapi dalam perjalanan kepramukaan. Menjadi Penegak tidak hanya berbicara tentang kemampuan teknis dan keterampilan kepramukaan, tetapi juga mengenai pola pikir, tanggung jawab, keberanian menghadapi tantangan, kemampuan mengambil inisiatif, serta kesediaan untuk terus berkembang dan mengabdikan diri kepada masyarakat.

Kak Sahla selaku pemateri menjelaskan bahwa perubahan mindset merupakan hal penting ketika seorang anggota memasuki jenjang Penegak.

“Di masa Penggalang kalian mungkin hanya menunggu instruksi dari pembina, hanya menjadi peserta dalam sebuah kegiatan. Ketika menjadi Penegak, kalianlah yang menginstruksikan dan melaksanakan kegiatan. Maka ketika kalian berpikir bahwa menjadi Penegak itu melelahkan dan membosankan, berhenti untuk menunggu, mulailah. Buatlah kegiatan yang menyenangkan, buat rumah atau ambalan kalian menyenangkan.”

Lebih lanjut, Kak Sahla menegaskan bahwa perbedaan antara Penggalang dan Penegak bukan hanya terletak pada tingkatan, tetapi juga pada peran dan tanggung jawab yang harus dijalankan.

“Menjadi Penggalang adalah belajar mengikuti, menjadi Penegak adalah belajar memimpin. Seorang Penegak tidak menunggu perubahan, tetapi mengawali perubahan dengan ‘saya siap memulai’. Akhir kata, menjadi Penegak bukan hanya menunggu kesempatan untuk memimpin, tetapi tentang berani mengambil tanggung jawab ketika kesempatan itu datang.”

Pesan tersebut memberikan kesan tersendiri bagi para peserta. Salah satunya dirasakan oleh Windy Antika, salah satu calon Penegak yang mengikuti kegiatan. Ia mengaku bahwa materi yang disampaikan Kak Sahla mampu mengubah cara pandangnya terhadap dunia kepramukaan.

“Dengar materi Kak Sahla jadi merubah pola pikir saya. Saya kira Pramuka itu sama saja, ternyata berbeda. Tiap tingkatan beda tantangan serta dinamikanya. Penggalang itu menunggu, sedangkan Penegak itu berani memulai. Itu yang saya ingat dari materi Kak Sahla.”

Pernyataan Windy menjadi gambaran bahwa materi tersebut tidak hanya diterima sebagai teori, tetapi mampu mendorong peserta untuk memahami makna perubahan peran ketika memasuki jenjang Penegak.

Melalui kegiatan ini, para calon Penegak SMAN 1 Citeureup diharapkan tidak lagi memandang jenjang Penegak sebagai sekadar kenaikan tingkatan, melainkan sebagai awal perjalanan untuk berani mengambil peran, menciptakan kegiatan, memimpin, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Sebab, seorang Penegak tidak dilahirkan untuk terus menunggu. Ia hadir untuk memulai, menggerakkan, dan membawa perubahan.

 

Kominfo Kwarran Citeureup