Salah satu tantangan terbesar Gerakan Pramuka saat ini adalah tersedianya pembina yang memiliki sertifikasi resmi. Hal inilah yang mendasari pembahasan utama dalam Kursus Orientasi Mabigus di Legok Lauk, Pamijahan, 14 Mei 2026. Kwartir Ranting Leuwiliang secara tegas meminta para Kamabigus untuk mengutamakan peningkatan kualitas SDM pembina di pangkalan masing-masing.

Dalam orientasi tersebut, dijelaskan bahwa seorang pembina Pramuka minimal harus telah mengikuti Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD). Mabigus memiliki peran strategi untuk menugaskan dan membiayai para guru atau staf untuk mengikuti kursus tersebut. Tanpa pembina yang mahir, materi kepramukaan yang disampaikan kepada siswa bertanya tidak sesuai dengan metode yang seharusnya.

Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai tingkat pendidikan orang dewasa di Gerakan Pramuka, mulai dari KMD, KML, hingga kursus pelatih. Hal ini bertujuan agar Mabigus paham bahwa Pramuka adalah organisasi yang sangat sistematis dalam pengembangan kapasitas anggotanya. Dukungan Mabigus terhadap pengembangan operator pengembang akan berdampak langsung pada prestasi siswa.

Selain itu, kursus ini juga membahas mengenai pentingnya regenerasi pembina di sekolah. Banyak pangkalan yang mengalami kendala saat pembina senior memasuki masa pensiun. Oleh karena itu, Mabigus menyarankan untuk mulai menyiapkan kader-kader muda dari kalangan guru honorer atau alumni untuk dikirim mengikuti pelatihan kepramukaan secara berkala.

Kegiatan berakhir dengan penandatanganan pakta integritas peningkatan kualitas SDM. Para Kamabigus menyadari bahwa investasi terbaik dalam pendidikan adalah pengembangan manusia. Dengan pembina yang mahir, gugus depan akan tumbuh menjadi wadah yang lebih menarik, menantang, dan mendidik bagi generasi milenial dan Gen Z.

.

Hafizhah Ainun Rahmah