CILEUGNGSI - Kursus Mahir Dasar Kwarran Cileungsi digelar pada 5-7 dan 12-14 Juni 2026 di SDMPN 4 Cileungsi. Pada kegiatan Kursus Mahir Dasar (KMD) hari kelima, peserta mengikuti kegiatan penjelajahan. Kegiatan ini dirancang untuk melatih keterampilan kepramukaan, kerja sama tim, kepemimpinan, serta kemampuan memecahkan masalah di lapangan.

Petualangan dimulai sejak pagi hari ketika setiap regu menerima tugas pertama, yaitu membuat peta perjalanan. Regu kami bersama-sama mengamati medan yang akan dilalui, menentukan titik keberangkatan, pos-pos kegiatan, arah mata angin, serta simbol-simbol yang diperlukan dalam peta. Dengan penuh semangat, kami berdiskusi dan membagi tugas sehingga peta yang dibuat dapat menjadi panduan selama penjelajahan berlangsung.

Perjalanan dilanjutkan menuju pos berikutnya. Di pos ini, kami mendapat tantangan untuk membuat tandu darurat menggunakan tongkat dan tali yang telah disediakan. Setiap anggota berperan aktif, mulai dari mengikat simpul, menyusun rangka tandu, hingga memastikan tandu cukup kuat untuk digunakan. Melalui kegiatan ini, kami belajar pentingnya kerja sama, ketelitian, dan keterampilan pionering yang sangat berguna dalam situasi darurat.

Perjalanan kamu kemudian berlanjut ke pos keterampilan berikutnya, yaitu menaksir tinggi suatu objek. Sebelumnya, kami diberi perintah untuk memecahkan sandi morse yang berisi perintah menaksir tinggi sebuah pohon menggunakan metode kepramukaan yang telah dipelajari. Dengan memanfaatkan tongkat dan pulpen, kami melakukan pengukuran sederhana dan berdiskusi untuk mendapatkan hasil yang mendekati kondisi sebenarnya. Kegiatan ini melatih kemampuan observasi, logika, dan penerapan ilmu pengetahuan dalam kegiatan lapangan.

Tantangan terakhir sekaligus yang paling menarik adalah simulasi pertolongan pertama. Pada simulasi pertama, salah satu anggota berperan sebagai korban yang mengalami luka di bagian pelipis akibat benturan. Kami segera melakukan pemeriksaan awal, membersihkan luka sesuai prosedur simulasi, kemudian memasang perban dengan hati-hati untuk mencegah perdarahan dan menjaga kondisi korban tetap stabil.

Selanjutnya, kamu menghadapi simulasi kedua, yaitu penanganan korban yang diduga mengalami patah tulang pada kaki kanan. Dengan tenang dan terkoordinasi, kami melakukan penilaian kondisi korban, memasang bidai menggunakan alat yang tersedia, serta memastikan bagian yang cedera tidak banyak bergerak. Setelah itu, korban dipindahkan menggunakan tandu yang telah dibuat sebelumnya menuju titik evakuasi. Kegiatan ini memberikan pengalaman nyata tentang pentingnya pertolongan pertama dan penanganan korban secara tepat sebelum mendapatkan bantuan medis lebih lanjut.

Selama penjelajahan berlangsung, Regu kami menunjukkan semangat pantang menyerah, kedisiplinan, dan kekompakan yang tinggi. Setiap tantangan berhasil diselesaikan melalui musyawarah, kerja sama, dan penerapan keterampilan kepramukaan yang telah dipelajari. Kegiatan “Jejak Petualangan Regu Teratai” tidak hanya menjadi ajang belajar di alam terbuka, tetapi juga menjadi pengalaman berharga dalam membentuk karakter, kepedulian, tanggung jawab, serta kesiapsiagaan peserta sebagai calon pembina Pramuka yang mampu menjadi teladan bagi peserta didiknya di masa depan.