Ciseeng - Abday Rathaumi, pelatih Kwartir Ranting Ciseeng, Kabupaten Bogor, membuktikan gerakan Pramuka bisa turun langsung menjawab program ketahanan pangan nasional. Melalui usaha peternakan ikan nila dengan sistem bioflok, ia mengubah lahan terbatas menjadi sumber pangan dan ekonomi produktif.
Program ketahanan pangan menjadi salah satu fokus Kwarnas Gerakan Pramuka untuk mendorong kader di seluruh Indonesia menciptakan kemandirian pangan di tingkat keluarga dan masyarakat.
Abday mengelola kolam bioflok nila dengan padat tebar tinggi di lahan sempit wilayah Ciseeng. Sistem bioflok dipilih karena hemat air, minim pergantian, dan mampu menjaga Survival Rate di atas 95%.
"Sistem ini cocok buat lahan terbatas. Satu kolam diameter 3 meter bisa hasilkan 150-200 kg nila per siklus. Airnya juga jarang dibuang, jadi ramah lingkungan," jelas Abday saat ditemui di lokasi budidaya.
Dalam sistem bioflok, kotoran dan sisa pakan diurai bakteri menjadi gumpalan mikroba atau flok. Flok ini menjadi pakan alami tambahan bagi ikan, sehingga Feed Conversion Ratio bisa ditekan di bawah 1. Hasilnya, biaya pakan lebih efisien dan panen lebih stabil.
Upaya Abday selaras dengan arahan Kwarnas agar setiap gugusdepan dan kwartir cabang memberi contoh nyata kemandirian ekonomi dan pangan. Hasil panen nila sebagian dijual ke pasar lokal, sebagian dibagikan untuk konsumsi keluarga besar Pramuka di sekitar Ciseeng.
Kami ingin anak-anak Pramuka lihat langsung kalau ketahanan pangan itu bukan wacana. Bisa dimulai dari halaman belakang pakai teknologi sederhana seperti bioflok," ujarnya.
Langkah Abday Rathaumi diharapkan menjadi contoh bagi pelatih dan pembina Pramuka lain di Jawa Barat untuk mengembangkan usaha produktif serupa, sekaligus mendukung target swasembada Pangan nasional.